Roma Nyatakan Perang Terhadap Permen Karet

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa gemar mengunyah permen yang satu ini. Tapi kini kepopuleran permen tersebut justru membuat pemerintah kota Roma kerepotan, sehingga serius menyatakan perang terhadap permen karet.

Permen karet sangat populer di seluruh dunia, termasuk di Roma, Italia. Namun kepopuleran permen tersebut kini menjadi masalah serius bagi kota Roma. Pasalnya bekas permen karet sering dibuang sembarangan di seluruh penjuru kota sehingga membuat kotor jalanan. Bahkan sebuah situs bersejarah dan

terkenal di kota tersebut kini ikut menjadi korban si permen karet.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berwenang di kota Roma pun membentuk sebuah tim dengan para relawan untuk membersihkan permen karet di kota Roma. Kampanye pembersihan mulai dilakukan di Largo Argentina (13/12), sebuah tempat bersejarah dengan reruntuhan empat kuil Romawi empat di tengah-tengahnya. Selain itu bersama para relawan mereka juga mempersihkan ratusan permen karet yang ditempelkan di dinding, trotoar, dan jalan.

"Setiap hari, 15.000 batang permen karet dibuang di jalan, bahkan di situs arkeologi," kata Piergiorgio Benvenuti seperti yang dikutip dari AFP. Benvenuti berasal dari agensi Ama yang bertindak sebagai ketua pengumpulan sampah yang datang untuk mengawasi jalannya operasi pembersihan.
Para relawan sendiri berasal dari organisasi "Per Noi Roma" (Kami Untuk Roma) yang dipimpin oleh Isabella Rauti. Menurut istri dari Walikota Roma Gianni Alemanno ini, permen karet memerlukan waktu lama untuk hancur. Sehingga orang harus berpikir dua kali sebelum membuangnya di sembarang tempat seperti di dinding atau di tanah.

Wisatawan yang berkunjung ke kota Roma juga sering mengeluhkan tingkat kebersihan di kota Roma. Meskipun sebagai tanggapan akan hal tersebut, pemerintah setempat telah melakukan upaya besar dalam beberapa tahun terakhir untuk menggiatkan pengumpulan sampah di tempat-tempat wisata bersejarah.
"Untuk membersihkan setiap satu permen karet di kota ini, kami membutuhkan biaya sebesar 1 euro," kata Benvenuti.

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar